Ahad, 28 April 2013

*•☆°•✽✽FAEDAH MENGINGAT KEMATIAN✽✽•°☆•*



*•☆°•✽✽FAEDAH MENGINGAT KEMATIAN✽✽•°☆•*

☆•☆•Assalamu'alaikum`warahmatullahi`wabarakatuh•☆

ღ☆ღBismillahirrahmanirrahiim...


❀¸.•❤•.❀ ..•❤•.¸✿ ✿¸❀¸.•❤•.❀

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali-'Imran : 185)

Kapankah Kematian akan menjemput kita ?
Kita tak ada yang tau kapan ia akan menjemput kita, apakah puluhan tahun ?
Beberapa tahun lagi ?
Atau dalam hitungan bulan, hari, jam, atau mungkin beberapa detik lagi ?
Maka perbanyaklah mengingat kematian dan bersiaplah menyambut tamu terakhir yaitu kematian.

Persiapkan diri kita dengan bekal amal sebanyak banyaknya....!!
kematian orang yang sekitar kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita. Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah.
Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.
Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita.
Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak.

Kita dianjurkan untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadap kematian.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2 : 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani).

Yang dimaksud pemutus kelezatan pada Hadits di atas adalah kematian.
Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi Beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik ?”
Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.”
“Lalu mukmin manakah yang paling cerdas ?”, ia kembali bertanya.
Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)

FAEDAH MENGINGAT KEMATIAN

1. Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (artinya) :
“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya.
Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

3. Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

4. Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (artinya) :
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

5. Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim
Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthaffifiin : 4).
Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Nasehat ulama tentang mengingat kematian

Abu Darda’ berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”

Yang menakjubkan pula dari Ar Robi’ bin Khutsaim. Ia pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala, “(....Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata) : Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan...” (QS. Al Mu’minuun : 99-100)
Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, “Wahai Robi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati), Beramallah...!!”

Semoga menjadi renungan yang baik bagi kita semua, terutama buat diri kami sendiri.
Semoga Allah menganugerahkan kematian yang khusnul katimah kepada kita kelak dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya dan melindungi kita dari siksa kubur dan siksa api neraka. Aamiin....!!

✽✫✫¸.•°*”˜˜”*° ♥
¸.•°*”˜˜”*°•. ♥
☻/ღ˚ •。* ˚✰˚ ˛★* 。
/▌*˛˚ღ •˚ ✰* ★
/ \ ˚. .❀¸.•❤•.❀ ..•❤•.¸✿ ✿¸.
✿) Salam Erat Silaturahmi Dan✿)
✿) Salam Santun Ukhuwah Fillah✿)
(¯`*•☆°•Hj.WHW Ksp•°☆•*´¯)
❀¸.•❤•.❀ ..•❤•.¸✿ ✿¸❀¸.•❤•.❀

Tiada ulasan:

Catat Ulasan