Rabu, 27 November 2013

MENGUKUR KEIKHLASAN DIRI

share dari link fb ~Bicara Hidayah

MENGUKUR KEIKHLASAN DIRI 

”Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan?“ (An-Nisa: 125)

Menyerahkan diri kepada Allah diartikan sebagai memurnikan tujuan dan amal hanya karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah dan sunah beliau. Bayak definisi yang diberikan kepada kata ikhlas, ada yang berpendapat ikhlas artiya membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Ada juga yang mengartikan sebagai menjaga amalan dari perhatian manusia termasuk pula dari diri sendiri. Dalam Manzilus Sa’irin berkata bahwa ikhlas diartikan sebagai membersihkan amal dari segala campuran.

Saudaraku, memang keikhlasan harus terus diperjuangkan. Niat yang ikhlas saja belum menjamin kita sampai kepada taraf kemurnian ikhlas itu sendiri. Sebagaimana Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya,

”Allah berfirman, “Aku adalah paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barang siapa mengerjakan suatu amal, yang didalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukannya dan Aku terbebas darinya.” 

Setiap hamba memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah (beramal) yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal.

Ada beberapa contoh pendekatan pemahaman (tanda) tentang kualitas ikhlas, sehingga kita bisa mengukur diri sendiri sampai dimanakah tingkat keikhlasan kita. Semoga kita bisa semakin memperbaiki ikhlas kita.

1. KEIKHLASAN HADIR BILA KITA TAKUT AKAN POPULARITAS

Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata bahwa, ‘Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari iming-iming (pemikat) kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak hairan jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya’.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung orang lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”

Kalimat itu adalah peringatan agar dalam mengarungi kehidupan kita tidak terjebak pada jerat ingin mendapat pujian manusia. Namun , Jika tanpa ambisi dan tanpa meminta kita menjadi dikenal orang, itu tidak mengapa. Meskipun itu bisa menjadi potensi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak siap menghadapinya.

2. IKHLAS ADA SAAT KITA MENGAKUI BAHWA DIRI KITA SEBENARNYA BANYAK KEKURANGAN

Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemas bahwa yang dilakukannya tidak diterima Allah سبحانه وتعالى.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang maksud firman Allah: “Dan orang -orang yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlomba.” (Ahmad)

3. KEIKHLASAN HADIR KETIKA KITA CENDERUNG UNTUK MENYEMBUNYIKAN AMAL KEBAJIKAN

Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.

Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?”

Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. bahwa beliau bersabda, ‘Riya sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)

4. IKHLAS ADA SAAT ANDA TAK MASALAH DITEMPATKAN SEBAGAI PEMIMPIN ATAU PRAJURIT

Rasulullah صلى الله عليه وسلم melukiskan tipe orang seperti ini dengan berkataan, 

“Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya. Dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya.”

Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah سبحانه وتعالى.

5. KEIKHALASAN ADA KETIKA KITA MENGUTAMAKAN KERIDHAAN ALLAH DARIPADA YANG LAIN

Tidak sedikit dari di bawah bayang-bayang orang lain. Kita hanya sebagai bawahan, buruh, atau orang upahan lainnya. Maka bila pemimpin itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. Namun apabila penguasa itu menggunakan kekuasaannya sedemikian hingga memaksa kita bermaksiat kepada Allah سبحانه وتعالى. Di sinilah keikhlasan kita diuji.

6. IKHLAS ADA SAAT KITA CINTA DAN MARAH KARENA ALLAH

Adalah ikhlas saat kita menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda. Sebaliknya, Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang berbuat kebalikan dari itu. 

“Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

7. KEIKHALASAN HADIR SAAT SABAR TERHADAP TERJALNYA JALAN YANG MENDAKI

Keikhlasan akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup adalah ujian. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang sabar menempuh jalan panjang itu.

Sebagaimana firman-Nya, yang artinya , ”Dan sesungguhnya beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olok.” (Al-An’am: 10)

Padahal seluruh Rasul dan Nabi adalah pembawa berita gembira bagi setiap umat, sungguh itu perjuangan yang panjang dan sangat melelahkan.

8. IKHLAS ADA SAAT KITA MERASA GEMBIRA JIKA ORANG LAIN MEMILIKI KELEBIHAN

Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.

9. TIDAK MUDAH KECEWA

Seorang hamba Allah yang ikhlas seharusnya menyakini benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi suatu hal yang tidak g dia niatkan, maka semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah سبحانه وتعالى. Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.

Masalah kekecewaan yang wajar adalah jika berhubungan dengan urusan dengan Allah, kecewa ketika ternyata sholatnya tidak khusyu‘, ibadahnya tidak meningkat dsbnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم, pernah bersabda, yang artinya,

“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril ‘alaihisallamapakah ikhlas itu?” Lalu Jibril berkata, “Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah سبحانه وتعالى yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab, yang artinya “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“ (HR Al-Qazwini)

Saudaraku, jika menerapkan Ikhlas sudah menjadi suatu kebiasaan, maka jangan hairan jika hasll akhirnya adalah hldup yang tldak hanya penuh kedamaian dan kasih sayang, tapi juga kemudahan dan berbagal keajaiban.

Seorang ulama ahli hikmah berkata, ’Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah saja.’

Semoga kita selalu mendapt pertolongan Allah untuk terus berjuang menegakkan keikhlasan.

Allahu a’lam.

Sumber: Ar Rahmah, IKADI Malang, Dakwatuna.com
_______________
Shared By: bicara.hidayah ( .. buat diriku ..)
Bicara Hidayah - Bicara Hati ღ
✔ tag ✔ comment ✔ share ✔ Like 
☆ ⋆ ☆ ⋆ ☆ ⋆ ☆

Tiada ulasan:

Catat Ulasan